Bulan April merupakan salah satu waktu paling tepat untuk mengunjungi
Bangkok, Thailand. Di bulan ini, masyarakat setempat merayakan Songkran
atau Tahun Baru Thailand. Limpahan air akan mewarnai jalanan selama tiga
hari yang menjadi hari libur nasional tersebut.
Anda akan melihat orang-orang saling menyiram, baik dengan menggunakan
ember atau pistol air, bahkan dengan selang dari punggung truk-truk. Hal
ini terkait dengan makna Festival Songkran sebagai awal dari sesuatu
yang baru. Sisa-sisa debu tahun lalu pun harus dihapuskan. Di bawah
teriknya matahari Bangkok, sayang bila Anda hanya duduk dan menonton
sementara orang lain bersenang-senang.
Di luar perayaan tersebut, air tetap menjadi bagian penting kota
Bangkok. Serangkaian khlong atau kanal kota merupakan jalur alternatif
untuk menghidari macet di jalanan selama jam-jam sibuk. Namun yang lebih
menarik ialah menyusurinya dalam sebuah petualangan menggunakan perahu.
Melihat sejarah peradaban Thailand yang dibangun di sepanjang jalur air
tersebut.
Sebuah perahu tak hanya dapat membawa Anda bukan hanya melintasi desa-desa yang baru berdiri, tetapi juga desa-desa bersejarah yang sudah ada sejak 230 tahun lalu, ketika ibukota Thailand ini dibangun.
Salah satunya adalah Baan Khrua yang berarti ‘Desa keluarga Muslim’. Tahun 1780, penduduk yang berasal dari Kamboja diberikan lahan khusus melalui peraturan kerajaan sebagai penghormatan atas bantuan mereka melindungi ibukota yang lama.
Sebuah perahu tak hanya dapat membawa Anda bukan hanya melintasi desa-desa yang baru berdiri, tetapi juga desa-desa bersejarah yang sudah ada sejak 230 tahun lalu, ketika ibukota Thailand ini dibangun.
Salah satunya adalah Baan Khrua yang berarti ‘Desa keluarga Muslim’. Tahun 1780, penduduk yang berasal dari Kamboja diberikan lahan khusus melalui peraturan kerajaan sebagai penghormatan atas bantuan mereka melindungi ibukota yang lama.
Penduduk desa ini sejak lama terkenal akan kerajinan sutra mereka. Salah
satu yang dapat Anda kunjungi ialah rumah peninggalan Jim Thompson.
Seorang pengusaha dari Amerika yang mendirikan perusahaan sutra di
tempat ini. Rumah dengan perabot dan artefak bergaya campuran Asia dan
Barat tersebut menghasilkan interior bernuansa eksotis. Kemudian,
tamannya yang indah membawa suasana penuh ketenangan.
Destinasi selanjutnya, yang juga menjadi akhir dari perjalanan menyusuri khlong adalah Pulau Rattanakosin. Pulau ini merupakan semacam delta yang terbentuk dari Sungai Chao Phraya dan kanal-kanal lainnya.
Setelah berlabuh di Dermaga Phan Fa Lilat, petualangan ini dapat Anda lakukan dengan berjalan kaki menuju Baan Baat atau ‘desa mangkuk biksu’. Sesuai namanya desa ini merupakan tempat pembuatan mangkuk sedekah secara tradisonal. Bawa pulang beberapa mangkuk untuk mengingatkan Anda pada perjalanan berkesan di Bangkok.
Sebagai pulau yang menyimpan beberapa situs agama paling berharga di Thailand. Tempat yang harus dikunjungi di Rattanakosin antara lain Wat Phra Kaew (Candi Buddha Zamrud) dan Wat Pho (Candi Buddha Berbaring). Tempat ini dapat dicapai dengan tuk-tuk (kendaraan umum khas Thailand), begitu juga pasar Maharat di mana jimat Buddha, pasar buah dan bunga Pak Khlong berada.
Dari fajar sampai senja, kapal-kapal berhenti di dermaga-dermaga sebelah pasar-pasar ini, sementara feri-feri untuk menyebrangi sungai berlalu lalang seperti pintalan dalam alat tenun. Di sisi lain dermaga Pak Khlong terhubung dengan Gereja Santa Cruz (situs desa Portugis bersejarah).
Indahnya senja mungkin dapat menutup petualangan Anda menelusuri perairan Chao Phraya. Namun sungai besar itu masih akan terus mengalir melalui Ayutthaya yang bersejarah sama seperti ia mengaliri jantung Kota Bangkok hari ini. (sumber : www.garuda-indonesia.com & in-flight magazine - Garuda Indonesia)
Destinasi selanjutnya, yang juga menjadi akhir dari perjalanan menyusuri khlong adalah Pulau Rattanakosin. Pulau ini merupakan semacam delta yang terbentuk dari Sungai Chao Phraya dan kanal-kanal lainnya.
Setelah berlabuh di Dermaga Phan Fa Lilat, petualangan ini dapat Anda lakukan dengan berjalan kaki menuju Baan Baat atau ‘desa mangkuk biksu’. Sesuai namanya desa ini merupakan tempat pembuatan mangkuk sedekah secara tradisonal. Bawa pulang beberapa mangkuk untuk mengingatkan Anda pada perjalanan berkesan di Bangkok.
Sebagai pulau yang menyimpan beberapa situs agama paling berharga di Thailand. Tempat yang harus dikunjungi di Rattanakosin antara lain Wat Phra Kaew (Candi Buddha Zamrud) dan Wat Pho (Candi Buddha Berbaring). Tempat ini dapat dicapai dengan tuk-tuk (kendaraan umum khas Thailand), begitu juga pasar Maharat di mana jimat Buddha, pasar buah dan bunga Pak Khlong berada.
Dari fajar sampai senja, kapal-kapal berhenti di dermaga-dermaga sebelah pasar-pasar ini, sementara feri-feri untuk menyebrangi sungai berlalu lalang seperti pintalan dalam alat tenun. Di sisi lain dermaga Pak Khlong terhubung dengan Gereja Santa Cruz (situs desa Portugis bersejarah).
Indahnya senja mungkin dapat menutup petualangan Anda menelusuri perairan Chao Phraya. Namun sungai besar itu masih akan terus mengalir melalui Ayutthaya yang bersejarah sama seperti ia mengaliri jantung Kota Bangkok hari ini. (sumber : www.garuda-indonesia.com & in-flight magazine - Garuda Indonesia)
Jakarta To Bangkok
--------------------------------------------------
Distance from Jakarta 2,323 km
Flight Time 3hrs, 5 mins
Frequency 14 times a week
--------------------------------------------------
--------------------------------------------------
0 komentar:
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.